Feed on
Posts
Comments

Kemaren malem saya ngobrol ama temen kos. Setelah ngobrol ke sana ke sini, tibalah topik pembicaraan pada jalur Kereta Parahyangan yang akan dicabut. Saya cerita bahwa saya ingin tiap minggu ke Bandung. Saya pun mengeluh tentang sulitnya transportasi Jakarta-Bandung jika kereta bisnis itu dicabut. Saya juga mengeluh tentang sempitnya tempat duduk travel jika saya duduk di travel tersebut. Lalu saya juga mengeluh tentang macetnya kota Jakarta pada saat weekend jika saya menggunakan jasa travel. Saya mengeluh karena saya tidak terbiasa macet di kota Bandung. Saya mengeluh dan mengeluh.

FYI, temen saya itu asalnya dari Probolinggo, Jawa Timur. Anak istrinya berada di kota tersebut. Sedangkan dirinya berjarak beratus-ratus kilometer dari keluarganya. Beliau ditempatkan sementara di Jakarta sebelum diberangkatkan ke Kalimantan oleh kantornya. Beliau menanggapi keluhan saya dengan bercerita tentang dirinya.

Teman saya itu bertemu keluarganya setiap dua minggu sekali. Karena ya memang itu waktu yang dia punya untuk bertemu keluarganya. Jika seminggu sekali, betapa lelahnya beliau pergi Jakarta-Probolinggo setiap minggu. Lagipula ongkosnya pasti sangat mahal untuk bepergian sejauh itu empat kali dalam sebulan. Dan guess what, dia pulang ke kota asalnya dengan menggunakan kereta Ekonomi dua kali seminggu. Whatt?? Ekonomi?? “Yaa, kalo badan seger, saya naek Ekonomi, kalo badan agak ngga enak, baru saya naek yang Bisnis.”.  Mantapp.

Okey, kita review apa yang biasa dia lakukan jika beliau pulang ke tempat asalnya. Kalo naek KA Ekonomi, dia berangkat Jumat sore dari Jakarta ke Surabaya. Nyampe Surabaya jam 9 pagi. Lalu dilanjutkan dengan naek bis dari Surabaya ke Probolinggo selama 2 jam. Jadi nyampe rumahnya kira2 hari Sabtu jam 12 siang. Berarti dia bertemu keluarganya hanya 24jam. Hari Minggu esoknya jam12, dia harus pergi lagi ke Surabaya untuk dilanjutkan dengan KA Ekonomi ke Jakarta. Deg, saya takjub dari cerita yang ia sampaikan. Pada saat weekend, saya sempat tidur di ranjang saya yang empuk pada saat Jumat malam, sedangkan beliau tidur di gerbong kereta Ekonomi yang dingin dan kadang2 bau pesing. Pada saat Minggu malam, saya sudah sampai di tempat kost saya di Jakarta untuk istirahat mengumpulkan tenaga sebelum kerja esok hari, sedangkan beliau masih berada di gerbong Ekonomi yang dingin.

Tarif KA Ekonomi yang biasa beliau naiki kalo ngga salah Rp 44rb. Harganya lebih mahal dibandingkan jika saya menggunakan kereta Parahyangan dari Jakarta ke Bandung, bahkan sudah saya hitung dengan angkot sampe rumah saya di Antapani. Sedangkan beliau, ongkos bus dari Surabaya-Probolinggo belum dihitung. Kereta yang saya pakai KA Bisnis loh, bukan Ekonomi yang seperti beliau pake. Jika saya menggunakan KA Ekonomi Serayu Jkt-Bdg-Ciamis-Kroya, perbedaan harganya bisa lebih jauh lagi.

Beliau bilang, jika badannya lelah, biasanya beliau menggunakan kereta Api Bisnis yang harganya 180rb. Jauh bila dibandingkan dengan KA Parahyangan. Jika menggunakan KA Eksekutif, harganya sekitar 250rb. Wah, harganya ngga jauh beda jika saya pake Parahyangan Jkt-Bdg pp setiap minggunya selama sebulan.

Lalu beliau jg bilang, “Wah, kalo saya sih, perjalanan 4jam itu–Jkt-Bdg dengan KA Ekonomi–itu sih perjalanan jarak pendek. Meskipun berdiri, ya ngga masalah, lha wong mau ketemu keluarga.. ” Deg, saya pun makin terpana.

Jadi sebenarnya, keluhan saya tentang Parahyangan itu ngga ada artinya dengan pengorbanan yang beliau lakukan untuk bisa bertemu dengan keluarganya. Sama sekali ngga sebanding. Karunia dari Allah yang kadang terlupakan untuk disyukuri adalah kesehatan dan waktu luang. Saya merasa malu pada diri saya sendiri karena terlalu banyak mengeluh. Mulai dari sekarang, saya harus tambah bersyukur atas semua yang telah saya miliki sekarang, dan berusaha untuk lebih baik lagi ke depannya.

Seperti lirik lagu “Jangan Menyerah” nya D’Masiv :
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah,
Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa

Oya, beliau nantinya akan kerja di Kalimantan. Beliau bilang, kerja di sana enak. Kerja 1,5 bulan, 2 minggu libur.. Jadi bisa puas pulang bertemu keluarga. Sungguh sesuatu yang sulit saya lakukan. Saya salut dengan beliau. Sangat salut. Semangat Pak! Semoga sukses selalu. Aamiin.. Terima kasih banyak pak telah memberikan saya banyak pelajaran! Terima kasih! Oya pak, seandainya bapak baca blog saya ini, jangan lupakan saya ya pak.. Keep contact :) ..

Lalu dia pun mulai menanggapi. FYI, temen saya itu asalnya dari Probolinggo, Jawa Timur.

One Response to “KA Parahyangan dan Karunia Allah yang Kadang Terlupakan untuk Disyukuri”

  1. [...] itu lama yup? Well, ternyata, waktu tempuh tersebut saangaaattt singkat jika dibandingkan dengan waktu yang biasa temenku tempuh untuk bertemu dengan keluarganya. Huff, saya memang harus lebih bersyukur atas apa yang saya [...]

Leave a Reply

Switch to our mobile site