Feed on
Posts
Comments

Terdapatlah seorang Ibu yang tinggal di sebuah kota kecil namun ramai bersama keluarganya. Sang Ibu memiliki anak perempuan sulung yang baru saja lulus dari Taman Kanak2. Saat itu sang Ibu sedang bingung Sekolah Dasar terbaik mana untuk anaknya. Dia mencari informasi dari berbagai sumber. Dia datangi seluruh Sekolah Dasar yang ada di sekitar komplek rumahnya. Dia juga menggali informasi dari tetangga2nya manakah yang merupakan Sekolah Dasar terbaik di lingkungannya.

Setelah informasi yang diperlukan dia dapatkan, Sang Ibu menyimpulkan bahwa SDN II adalah Sekolah Dasar terbaik di lingkungannya. “Eh, SDN II bagus karena guru2 di SD itu bagus-bagus loh.” begitu kata tetangganya. Sang Ibu mantap memilih SDN II sebagai Sekolah pilihan untuk anaknya. Namun, sang Ibu mendengar pendapat lain dari tetangganya yang lain, “Wah Bu, SDN II susah loh masuknya.. Mahal pula lagi.. Kalo ga salah biaya masuknya sampe 2 juta loh Bu.”. Sang Ibu berpikir keras, “Kalau misalkan anak saya bisa tes nya, mengapa harus bayar mahal”.  Akhirnya dengan hati yang manap, Sang Ibu menyiapkan berkas yang ia butuhkan untuk mendaftarkan anak sulungnya ke Sekolah Dasar tersebut.

Hari Pertama, Sang Ibu langsung mendatangi Kepala Sekolah SDN tersebut. “Silahkan Duduk.” Bu Kepsek mempersilahkan Sang Ibu untuk duduk di kursi tamu. “Saya mau memasukkan anak saya ke Sekolah ini Bu.” Sahut Sang Ibu. Bu Kepsek melihat akta lahir si Anak tersebut. “Wah, anak Ibu baru berumur 5 tahun 5 bulan. Sedangkan syarat masuk Sekolah Dasar adalah telah berumur 6 tahun. Jadi Ibu belum bisa memasukkan anak Ibu ke sekolah ini. Mohon maaf”. Sang Ibu tertegun.. Dia pulang ke rumahnya sambil berpikir “Pokoknya saya harus bisa memasukkan anak saya ke sekolah ini!”

Hari Kedua. Sang Ibu langsung menuju ke ruangan Kepala Sekolah. “Silahkan masuk, Ada yang bisa dibantu?” Bu Kepsek mempersilahkan Sang Ibu masuk ke ruangannya. Sang Ibu mengutarakan pendapatnya untuk memasukkan anaknya ke Sekolah tersebut. Bu Kepsek menjawab dengan bijak, “Ibu, anak Ibu baru berumur lima setengah tahun. Kasihan anak Ibu bila harus masuk ke Sekolah Dasar sekarang. Sebaiknya Ibu memasukkan anak Ibu ke sini tahun depan saja setelah sudah siap.” Sang Ibu pulang lagi ke rumahnya . Sang Ibu tidak bisa menerima perkataan Bu Kepsek, karena dia yakin anaknya sudah siap masuk ke Sekolah Dasar.

Hari Ketiga. Sang Ibu datang lagi ke ruangan Bu Kepsek. Setelah Sang Ibu mengutarakan pendapatnya, Bu Kepsek menjawab, “Baik Bu, sebelumnya saya ingin tanya dulu, mengapa Ibu bersikeras memasukkan anak Ibu ke Sekolah ini, bukannya banyak Sekolah Dasar lain yang sama Bu?”. Sang Ibu menjawab dengan mantap, “Saya percaya bahwa Sekolah Dasar ini Sekolah Dasar terbaik, dan saya mempercayakan anak saya untuk mencari ilmu di Sekolah ini.”. Bu Kepsek tertegun.. Lalu Bu Kepsek menjawab. “Tapi mohon maaf, saya merasa kasihan terhadap anak Ibu yang baru berumur lima setengah tahun, lagipula anak Ibu juga harus melewati tes terlebih dahulu sebelum bisa diterima di Sekolah ini. Mohon maaf.” Sang Ibu pulang sambil berpikir, “Setidaknya anak saya harus coba ikuti tes nya terlebih dahulu!”

Hari Keempat. Sang Ibu kembali datang ke Sekolah tersebut. Bu Kepsek sudah tahu maksud kedatangan Sang Ibu. Sang Ibu memohon, “Bu, mohon masukkan anak saya ke Sekolah ini, setidaknya berikan anak saya kesempatan untuk mengikuti tes masuk terlebih dahulu.”. Bu Kepsek menjawab, “Pendirian Ibu sangat kokoh yup. Baiklah, taruh saja Akta kelahiran anak Ibu di meja saya, nanti saya proses.” Akhirnya akta kelahiran Anaknya ditaruh di atas meja Bu Kepsek namun tidak ditumpuk di tumpukan berkas anak2 lain di meja satunya. Sang Ibu pulang dengan ragu, apakah akta kelahiran anaknya akan dimasukkan ke dalam tumpukan akta kelahiran anak2 lain, apakah anaknya akan dipanggil tes.. Sang Ibu pulang dengan cemas

Hari Kelima, Sang Ibu datang lagi ke Sekolah tersebut. Bu Kepsek ingin tahu maksud kedatangan Sang Ibu kali ini. “Begini Bu, saya datang lagi ke sini untuk memastikan bahwa berkas anak saya sudah diproses apa belum. Apakah berkas anak saya sudah ditumpuk di tumpukan tersebut?” sahut sang Ibu sambil menunjuk tumpukan map berkas. Bu Kepsek menjawab, “Hmm, baru kali ini saya melihat kesungguhan hati seorang Ibu. Baiklah, saya akan memasukkan map anak Ibu ini ke tumpukan siswa baru.”. Bu Kepsek memasukkan berkas si Anak ke tumpukan tersebut. Bu Kepsek melanjutkan ucapannya. “Baik Bu, ditunggu saja pengumuman tes nya ya Bu. Semoga anak Ibu sukses.”. Sang Ibu tersenyum, “Terima Kasih Bu.”

Sang Ibu pulang dengan senyuman. Setidaknya anaknya memiliki kesempatan untuk mengikuti tes masuk terlebih dahulu. Sekarang Sang Ibu mulai berpikir, “Huff, kira-kira tes masuk untuk anak SD bakal ditanya apa yup..” Sang Ibu terus memikirkan hal tersebut sampai dia pulang ke rumahnya.

“Hmm, setidaknya berhitung sampai sepuluh pasti ditanya.. Ulang tahun ayah ibunya mungkin ditanya juga.. Hari hari dalam seminggu juga mungkin ditanya.. Yop.. sipp deh”. Mulai saat itu, sang Ibu mengajari anak sulungnya itu pengetahuan umum yang seharusnya diketahui oleh anak kecil. Sang Ibu mengajari anaknya dengan sabar dan berharap anaknya bisa masuk di Sekolah Dasar favorit itu.

Waktu tes sudah tiba. Ruangan kelas untuk Ruang pengujian sudah dikosongkan. Empat orang guru penguji duduk di depan kelas. Guru2 tersebut merupakan Guru masing2 pelajaran berbeda.  Tiap anak dipanggil satu-satu secara bergiliran di masing2 guru. Setelah selesai di penguji yang pertama, anak yang diuji bergeser ke meja kedua dst. Anak Sang Ibu pun mendapat gilirannya. Sang Ibu melihat dari luar kelas dengan cemas.

Meja Pertama, Guru Matematika. Tak ada masalah dengan penguji ini. Si Anak mampu menghitung hingga dua puluh. Sang Ibu sedikit tersenyum, karena Sang Ibu sudah mengajari anaknya menghitung hingga seratus.

Meja Kedua. Guru Bahasa Indonesia. Sang Anak disuruh untuk membaca beberapa kalimat. Si Anak terlihat lancar membaca. Sang Ibu telah memberitahu anaknya jika ingin mengeja, mengejalah dalam hati. Sang Ibu senyum.

Meja Ketiga. Guru Agama. Penguji menanyakan beberapa doa yang biasa si Anak ucapkan sehari2. Sang Anak dengan lancar berdoa sebelum makan, setelah makan dan beberapa doa lain. Sang Ibu tersenyum. Si Anak mendapat pelajaran berdoa dari Taman Kanak2nya dulu.  Sang Ibu sangat senang karena Sang Ibu merasa tepat telah memasukkan anaknya ke Taman Kanak2 terbaik di lingkungannya.

“Huff, tinggal meja terakhir.”. Sang Ibu bergumam dalam hati. “Pelajaran apa lagi ya yang dites?”

Meja terakhir. Guru Kesenian. Penguji bertanya pada Si Anak. “Kamu bisa nyanyi apa, nak?”. Sang Anak menjawab dengan mantap, “Aku mau nyanyi lagu Terima Kasih Guruku, Bu..”. Dan ternyata Si Anak menyanyi dengan percaya diri. Dia melenggaklenggokkan kepalanya seiring dengan irama yang ia nyanyikan. Guru yang lain langsung melihat ke arah Si Anak dengan terpesona. Sang Ibu tersenyum senang. Dia makin merasa tepat telah menyekolahkan anaknya ke Taman Kanak2 itu. Dia juga merasa yakin Sekolah Dasar ini akan memberikan ilmu yang baik untuk anaknya jika anaknya ini lulus.

Setelah giliran Si Anak selesai di meja keempat, Sang Ibu mendengar Guru Keempat berdialog dengan guru yang lain bahwa Si Anak memang layak untuk masuk Sekolah ini. Sang Ibu berucap syukur yang mendalam. Sang Ibu pulang bersama Anaknya untuk menunggu pengumuman penerimaan keesokan harinya. Sang Ibu sudah tersenyum karena dia telah mendengar meskipun tidak resmi bahwa anaknya memang sudah lulus.

Keesokan harinya, Sang Ibu datang ke sekolah untuk melihat pengumuman resmi dari Sekolah. Sang Ibu juga melihat bahwa nama anaknya terpampang di daftar anak yang lulus. Sang Ibu berucap syukur kembali. Hatinya merasa sangat senang.

“Sekarang saatnya mengurus Administrasi.” sahut sang Ibu dalam hati. Lalu sang Ibu masuk ke ruangan untuk mengurus biaya administrasi. Bapak Tata Usaha memberikan formulir yang berisi Uang Sumbangan Sukarela yang harus diisi oleh Sang Ibu. Ucapan tetangganya waktu itu terngiang di telinga sang Ibu, “Haduuh, berapa yup yang harus saya bayar.. Apakah semahal yang tetangga2 saya bilang?”.

“Bu!. Bu!” Bapak Tata Usaha membangunkan lamunannya sang Ibu. “Ini formulir diisi saja Bu. Kita sama sekali tidak melihat jumlahnya kok bu.” Sang Ibu melihat formulirnya, dan dia juga melihat daftar yang berisi jumlah uang yang dibayar oleh orang tua lain sebagai sumbangan sukarela. Akhirnya sang Ibu membayar sejumlah uang yang biasa dibayar para orang tua di sekolah lain pada umumnya.

Done! Bereslah segala sesuatunya. Anaknya bisa mulai sekolah minggu depan. Sang Ibu pun tersenyum puas. Anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik dengan biaya yang murah.

———————————————————————————-

jika kita ingin sesuatu, fokus pada keinginan kita tersebut. Fokus!! Gapai dengan segala apa yang kita bisa lakukan. Usaha!! Cobaan pasti datang, tapi cobaan itu hanya untuk menguji kita apakah layak untuk mendapat apa yang kita inginkan. Tetaplah berusaha. Istiqamah!! dan berdoalah kepada Allah. Tawakal!!

Leave a Reply

Switch to our mobile site